Kamis, 13 Januari 2011

BAB 1 EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN

A. Sumber Pengetahuan dan Implikasinya Terhadap Pendefinisian Pendidikan
1. Antara Science dan To Know
Kata “pengetahuan” (dalam bahasa Inggris knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja “tahu” (to know) yang juga semakna dengan “mengetahui”. Sementara kata “ilmu” berasal dari bahasa Arab “alima-ya’lamu-‘ilm” yang juga berarti “tahu” atau “mengetahui”. Secara etimologi kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu. Sedangkan secara terminologi, ilmu merupakan pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan itu. Menurut Quraish Shihab, kata “ilmu” dalam berbagai bentuknya terdapat 854 kali dalam al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian tujuan. Jadi ilmu pengetahuan itu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Pengetahuan yang tidak jelas dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi tidak dianggap sebagai ilmu walaupun orang menyebutnya ilmu juga.
Term ilmu pengetahuan sendiri (dalam bahasa Inggris “science” yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi sains) sejajar dengan istilah Latin “scientia” yang diturunkan dari kata dasar “sciere”. Menurut Henry Van Laer terdapat hubungan objektif antara istilah science dan istilah to know. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa semua sains mencangkup pengetahuan walaupun tidak setiap bentuk pengetahuan bisa dinyatakan sebagai sains. Kedua istilah tersebut sangat analog karena keduanya dipergunakan untuk menyatakan pengertian-pengertian yang sebagian sama dan sebagian lain berbeda.
To know merupakan aktivitas makhluk hidup dengan inderanya dimana mereka bisa menyaksikan dan juga menyajikan dunia eksternal ke dalam diri (internal) mereka sendiri. Menurut Laer, dalam diri manusia terdapat alat indera eksternal (penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan peraba) dan alat indera internal (indera sentral atau sensitivitas umum, imajinasi, indera memori, dan indera estimasi). Indera-indera eksternal berfungsi memasukkan informasi-informasi ke dalam diri, selanjutnya informasi-informasi tersebut diproses oleh indera-indera internal. Informasi-informasi yang telah diproses tersebut menjadi suatu pengetahuan. Setelah mengalami proses sistematisasi dan memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditentukan, pengetahuan ini kemudian menjadi ilmu pengetahuan.
Dari penjelasan Laer tersebut, maka model ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua, yaitu ilmu pengetahuan inderawi dan ilmu pengetahuan intelektual. Berbeda dengan Laer, Fazlur Rahman mendasarkan pada al-Qur’an mengklasifikasikan ilmu pengetahuan manusia ke dalam tiga jenis. Pertama, adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia, seperti pengetahuan fisik. Kedua, yaitu ilmu pengetahuan sejarah dimana al-Qur’an memotivasi manusia untuk mengadakan perjalanan di muka bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh. Ketiga, adalah illmu pengetahuan tentang manusia itu sendiri.

“Katakanlah:"Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman."
(QS. Yunus : 101)

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Luqman : 31)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS Al-Hajj : 46)

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS An Nahl : 78)

Pengklasifikasian ilmu pengetahuan menurut Rahman tersebut terbukti benar jika dikaitkan dengan kenyataan sekarang. Tingkat kemajuan ilmu pengetahuan ditentukan oleh seberapa jauh kemajuan dari ketiga jenis ilmu pengetahuan tersebut. Suatu bangsa yang lebih dahulu dan lebih banyak memahami rahasia-rahasia ketiga jenis ilmu pengetahuan itu akan lebih maju. Hal ini disebabkan ketiga jenis ilmu pengetahuan itu menjadi dasar untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang lain. Kemajuan yang dicapai oleh Barat tidak lepas dari kemajuan di bidang ketiga ilmu pengetahuan tersebut.
2. Sumber Pengetahuan
Kata “sumber” di sini merupakan terjemahan dari kata Inggris source. Kata sumber bisa berarti tempat keluar dan juga asal. Yang dimaksud sumber di sini adalah asal pengetahuan yang diperoleh atau dikembangkan. Al-Kindi, seorang filosof muslim yang dilahirkan di Kuffah pada tahun 801 M menyebutkan bahwa ada tiga macam sumber pengetahuan bagi manusia, yaitu sumber pengetahuan inderawi, sumber pengetahuan rasional (yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal), dan sumber pengetahuan melalui jalan isyraqi (iluminasi).




a. Sumber pengetahuan inderawi
Manusia mendapatkan pengetahuan secara langsung ketika mengamati (observasi) objek-objek material, kemudian dalam proses tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya berpindah ke imajinasi (musyawwiroh) diteruskan ke tempat penampungannya yang disebut hafidzah (recollection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini tidak tetap karena objek yang diamatipun tidak tetap, selalu dalam keadaan “menjadi”, berubah setiap saat, bergerak, berkurang dan berlebih kuantitasnya, dan berubah-ubah pula kualitasnya.
Menurut Al-Kindi, pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman inderawi selalu berkarakter parsial (juz’iy). Pengetahuan tersebut amat dekat dengan penginderaannya, tetapi amat jauh dari pemberian gambaran tentang alam pada hakikatnya.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
(QS An Nahl : 78)

b. Sumber pengetahuan rasional (yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal)
Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial, dan bersifat immaterial. Objek pengetahuan rasional ini bukan individu, tetapi genus dan spesies. Orang yang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit putih, atau berwarna, pengamatan tersebut akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Tetapi orang yang mengamati manusia dan menyelidiki hakikatnya sehingga pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk berfikir(rational animal/hayawan nathiq) maka dia telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak dan universal yang mencangkup semua individu manusia.
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)”.
(QS An Nahl : 12)

c. Sumber pengetahuan melalui jalan isyraqi (iluminasi).
Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan yang hakiki tentang hakikat-hakikat. Pengetahuan rasional juga terbatas pada pengetahuan tentang genus dan spesies. Al-Kindi mengingatkan adanya jalan lain untuk memperoleh pengetahuan, yaitu melalui jalan isyraqi (iluminasi).
Isyraqi (iluminasi) yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran nur illahi. Puncak dari jalan ini ialah diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu Tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah dan tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata-mata. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu. Pengetahuan dengan jalan wahyu ini merupakan kekhususan bagi para Nabi yang membedakannya dengan manusia-manusia lainnya.
Dari ketiga sumber pengetahuan menurut Al-Kindi tersebut dapat disimpulkan bahwa ada tiga sumber pengetahuan bagi umat Islam, yaitu al-Qur’an-Hadist, akal, dan alat indera Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman inderawi dan rasionalisasi seorang muslim hendaknya berangkat dan selaras dengan nilai-nilai moral dalam al-Qur’an dan Hadist. Menurut Fazlur Rahman, pengetahuan ilmiah tanpa dilandasi oleh moral akan sangat berbahaya. Pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada observasi dengan “mata dan telinga” dan dianalisis dengan pikiran (rasionalisasi) hasilnya akan menghunjam ke hati dan membangkitkan persepsi manusia yang akan menstransformasikan ketrampilan ilmiah dan teknologinya sesuai dengan persepsi moral yang diharapkan akan lahir darinya. Tanpa persepsi moral tersebut, pengetahuan ilmiah dan teknologi dapat dipastikan akan sangat berbahaya.
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”
(QS. Al An’am : 38)
Sebagian mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. Dan ada pula yang menafsirkannya dengan al-Quran dengan arti: dalam al-Quran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan bimbingan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.

3. Implikasi Sumber Pengetahuan Terhadap Pendefinisian Pendidikan
Keberagaman manusia sebagai subjek yang memandang pendidikan sebagai objeknya akan menghasilkan pendefinisian terhadap pendidikan secara beragam juga. Keberagaman definisi pendidikan tersebut tidak lepas dari sumber pengetahuan yang dipakainya. Manusia yang mendefinisikan pendidikan dengan bersumber pada pengetahuan inderawinya dan rasionalisasinya saja, maka akan menghasilkan definisi pendidikan yang cenderung materialis. Sedangkan manusia yang mendefinisikan pendidikan dengan pijakan al-Qur’an-Hadist, pengalaman inderawi, dan hasil rasionalisasinya, maka akan mendefinisikan pendidikan sesuai dengan nilai moral al-Qur’an dan Hadist yang humanis.
Pendefinisian pendidikan yang bersumber pada pengetahuan inderawi dan rasionalisasi banyak dilakukan oleh pakar pendidikan dari barat, seperti berikut ini :
- John Dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.
- Langeveld
Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa.
- Hoogeveld
Mendidik adalah membantu anak supaya anak kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas tanggungan sendiri.
- Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
- Sis Heyster
Mendidik adalah membantu manusia dalam pertumbuhan, agar mereka kelak mendapatkan kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya yang dapat tercapai olehnya dengan tidak mengganggu orang lain.

Dari definisi-definisi tersebut nampak bahwa eksistensi manusia di dunia sajalah yang disorotinya, yaitu bagaimana agar manusia bisa survive di dunia. Tapi tentu saja definisi-definisi tersebut tidaklah salah, namun kita juga harus kritis terhadapnya.
Kata “pendidikan” berasal dari kata “didik” dan “mendidik”. Secara etimologi “mendidik” berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlaq dan kecerdasan pikiran. Sedangkan “pendidikan” secara etimologi adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang melalui cara perbuatan mendidik.
Secara bahasa, pendidikan berasal dari kata pedagogi yang berarti pendidikan dan kata pedagogia yang berarti ilmu pendidikan, yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata, yaitu paedos dan agoge yang berarti “saya membimbing, memimpin anak”. Dari pengetian tersebut, pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
Pendidikan dalam bahasa Arab biasa disebut dengan istilah tarbiyah yang berasal dari kata kerja rabba. Kata rabba beserta cabangnya banyak dijumpai dalam al-Qur’an, misalnya dalam QS. Al-Isra : 24 dan QS. Asy-Syu’ara : 18. Tarbiyah merupakan derivasi dari kata rabb seperti dinyatakan dalam QS. Al-Fatihah : 2. Allah sebagai Tuhan semeste alam (rubb al-‘alamin), yaitu Tuhan yang mengatur dan mendidik seluruh alam. Allah memberikan informasi tentang arti penting perencanaan, penertiban, dan peningkatan kualitas alam. Manusia diharapkan selalu memuji kepada rabb yang mendidik alam semesta, karenanya manusia juga harus terdidik agar memiliki kemampuan untuk memahami alam yang telah dididik oleh Allah sekaligus mampu mendekatkan diri kepada Allah sang Pendidik Sejati. Sebagai makhluk Tuhan, manusia idealnya melakukan internalisasi secara kontinu (istiqomah) terhadap nilai-nilai illahiyah agar mencapai derajat insan kamil (manusia paripurna) sesuai dengan kehendak Allah SWT. Internalisasi tersebut dilakukan melalui pendidikan dimana pendidikan dalam konteks ini terkait dengan gerak dinamis, positif dan kontinu bagi setiap individu menuju idealitas kehidupan manusia agar mendapat nilai terpuji. Aktivitas pendidikan tersebut meliputi pengembangan kecerdasan pikir (rasio, kognitif), dzikir (afektif, emosi, hati, spiritual), dan keterampilan fisik (psikomotorik).
Definisi pendidikan minimal memuat tiga unsur yang mendukung pelaksanaan keberagamaan seseorang dalam wilayah habblumminallah dan habblumminannas yaitu (1) pendidikan merupakan usaha berupa bimbingan bagi pengembangan potensi jasmaniah dan rohaniah secara seimbang, (2) usaha tersebut didasarkan atas ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an, Hadist, dan ijtihad, dan (3) usaha tersebut diarahkan supaya membentuk dan mencapai kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang di dalamnya tertanam nilai-nilai Islam sehingga segala perilakunya sesuai dengan nilai-nilai Islam.

B. Pendidikan sebagai Ilmu Pengetahuan
Secara bahasa kata ilmu berasal dari bahasa Arab, yaitu “alima-ya’lamu-‘ilm”. Kata ilmu mulai digunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar. Menurut Fazlur Rahman, arti dari pengetahuan itu sendiri adalah proses untuk sampai dalam keadaaan tahu. Pengetahuan itu bukan merupakan suatu cermin kenyataan pasif melainkan suatu proses yang berkelanjutan. Oleh karena itu menurut Fazlur Rahman, pengetahuan dapat diperoleh melalui proses learning, thinking atau experiencing.
Dalam perkembangannya, kata ilmu tersebut biasanya digabung dengan kata pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan. Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Diperoleh melalui observasi dan eksperimen.
2. Selalu berkembang dan dinamis.
3. Merupakan kesatuan organik
Isi dari ilmu adalah teori sehingga ilmu pendidikan merupakan suatu kajian yang memuat teori-teori pendidikan serta data-data dan penjelasannya. Dalam menyusun teori-teori pendidikan, selain menggunakan kaidah-kaidah ilmu pendidikan yang telah ada, juga menggunakan pendekatan filosofis, logis, dan empiris sehingga konsep tersebut benar-benar idealis, realistik, dan praktis sesuai dengan karakteristik pendidikan sebagai ilmu pengetahuan. Teori-teori pendidikan tersebut tentu saja bersumber dari al-Qur’an-Hadist, pengalaman inderawi (melalui observasi) dan rasionalisasi (melalui observasi dan eksperimen) yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan juga dapat dipraktekkan secara operasional dalam dunia pendidikan.





C. Tujuan Pendidikan
Pendidikan sebagai sebuah proses tentunya mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai. Tujuan pendidikan ditentukan oleh dasar pendidikanya sebagai suatu landasan filosofis yang bersifat fundamental dalam pelaksanan pendidikan. Dalam hal ini masing-masing negara menentukan sendiri tujuan pendidikannya. Demikian pula masing-masing orang mempunyai bermacam-macam tujuan pendidikan, yaitu melihat kepada cita-cita, kebutuhan, dan keinginannya.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, dasar pendidikan nasioanal adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut merupakan pengejawantahan dari dasar pendidikan nasional.
Dalam perspektif Islam, dasar dan tujuan pendidikan nasional di atas secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan kepribadian individu yang paripurna (kaffah). Pribadi invividu yang demikian merupakan pribadi yang menggambarkan terwujudnya keseluruhan esensi manusia secara kodrati, yaitu sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk bermoral, dan makhluk yang ber-Tuhan. Citra pribadi yang seperti itu sering disebut sebagai manusia paripurna (insan kamil) atau pribadi yang utuh, sempurna, seimbang, dan selaras.
Manusia yang sempurna berarti manusia yang memahami tentang Tuhan, diri, dan lingkungannya. Jadi, pendidikan akan mencapai tujuannya jika nilai-nilai humanis tersebut masuk dalam diri peserta didiknya. Peserta didik akan mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar agar bermanfaat bagi sesama. Peserta didik yang belajar secara continue akan memiliki pikiran yang cerdas-kreatif, hati yang bersih, tingkat spiritual yang tinggi, dan kekuatan serta kesehatan fisik yang prima. Semua keunggulan tersebut digunakan untuk diabdikan kepada Tuhan dan untuk memberikan kemaslahatan individual dan sosial yang optimal dalam konteks kenegaraan.

D. Prinsip-prinsip Pendidikan
Dalam menentukan tujuan pendidikan sesungguhnya tidak terlepas dari prinsip-prinsip pendidikan. Dalam hal ini apling tidak ada lima prinsip dalam pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai al-Qur’an dan Hadist, antara lain :
1. Prinsip integrasi (tauhid)
Prinsip ini memandang adanya wujud kesatuan antara dunia dan akherat. Untuk itu pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang untuk mencapai kebahagiaan di dunia sekaligus di akherat (i’malu lid dunyaka ka annaka ta’isyu abadan, wa i’malu lil akhiratika ka’annaka tamuutu ghadan).
2. Prinsip keseimbangan
Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip intergrasi. Keseimbangan yang proporsional antara muatan rohaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni (pure science) dan ilmu terapan (aplicated science), antara teori dan praktek, dan antara nilai-nilai yang menyangkut aqidah, syari’ah, dan akhlak.
3. Prinsip persamaan dan pembebasan
Prinsip ini dikembangkan dari nilai tauhid, bahwa Tuhan adalah Esa. Oleh karena itu, setiap individu dan bahkan semua makhluk hidup diciptakan oleh pencipta yang sama (Tuhan). Perbedaan hanyalah unsur untuk memperkuat persatuan. Pendidikan adalah satu upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsu dunia menuju pada nilai tauhid yang bersih dan mulia. Manusia dengan pendidikannya diharapkan bisa terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, kejumudan, dan nafsu hayawaniah-nya sendiri.
4. Prinsip kontinuitas dan berkelanjutan (istiqomah)
Dari prinsip inilah kemudian dikenal konsep pendidikan seumur hidup (long life education). Belajar dalam Islam adalah satu kewajiban yang tidak pernah dan tidak boleh berakhir. Seruan membaca (iqra) yang ada dalam al-Qur’an merupakan perintah yang tidak mengenal batas waktu. Dengan menuntut ilmu secara continue dan terus menerus, diharapkan akan muncul kesadaran pada diri manusia akan diri dan lingkungannya, dan juga kesadaran akan Tuhannya.
“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Maidah : 39)
5. Prinsip kemaslahatan dan keutamaan
Jika ruh tauhid telah berkembang dalam sistem moral dan akhlak seseorang dengan kebersihan hati dan kepercayaan yang jauh dari kotoran maka ia akan memiliki daya juang untuk membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi kehidupan. Sebab, nilai tauhid hanya bisa dirasakan apabila ia telah dimanifestasikan dalam gerak langkah manusia untuk kemaslahatan dan keutamaan manusia sendiri.
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."
(QS. Al Kahfi : 110)

E. Urgensi Pendidikan dan Ilmu Pendidikan
Secara terminologis, pendidikan merupakan proses perbaikan, penguatan, dan penyempurnaan terhadap semua kemampuan dan potensi manusia. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu ikhtiar manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Dalam masyarakat yang peradabannya sangat sederhana sekalipun telah ada proses pendidikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sering dikatakan bahwa pendidikan telah ada semenjak munculnya peradaban umat manusia. Sebab semenjak awal manusia diciptakan, upaya membangun peradaban selalu dilakukan. Manusia mencita-citakan kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Melalui proses pendidikan yang benar dan baik maka diyakini cita-cita ini akan terwujud dalam realitas kehidupan manusia.
Pendidikan secara historis-operasional telah dilaksanakan sejak adanya manusia pertama di muka bumi ini, yaitu sejak Nabi Adam a.s yang dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa proses pendidikan itu terjadi pada saat Adam berdialog dengan Tuhan. Dialog tersebut muncul karena ada motivasi dalam diri Adam untuk menggapai kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Dialog tersebut didasarkan pada motivasi individu yang ingin selalu berkembang sesuai dengan kondisi dan konteks lingkungannya. Dialog merupakan bagian dari proses pendidikan dan ia membutuhkan lingkungan yang kondusif dan strategi yang memungkinkan peserta didik bebas berapresiasi dan tidak takut salah, tetapi tetap beradab dan mengedepankan etika.
Pendidikan diperlukan, dipentingkan dan dilakukan pertama kali oleh anggota keluarga, terutama oleh orang tua terhadap anak-anak mereka. Dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi, yaitu keterbatasan waktu, ilmu, dan juga fasilitas yang dimiliki oleh orang tua akhirnya didirikanlah lembaga pendidikan sebagai alternatif-solusi keterbatasan tersebut, seperti TK/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA/MAK dan sebagainya. Hendaknya lembaga pendidikan didesain dengan pertimbangan edukatif yang humanis agar proses pendidikan berlangsung dengan mudah, murah, dan sukses sesuai dengan visi, misi, dan tujuan lembaga pendidikan yang telah disepakati dan ditetapkan bersama antara lembaga pendidikan dengan keluarga. Dalam konteks kenegaraan, kontrak sosial-pendidikan tersebut menjadi keputusan nasional yang dirumuskan menjadi tujuan pendidikan nasional.
Betapa urgennya pendidikan bagi individu, keluarga, masyarakat dan bangsa. Begitu urgennya pendidikan untuk pembangunan bangsa sehingga pemerintah berusaha keras untuk :



1. Meningkatkan usaha pemerataan pendidikan
2. Meningkatkan mutu pendidikan, seperti peningkatan profesional guru, akreditasi sekolah, serta pengadaan berbagai fasilitas-fasilitas pendidikan.
3. Meningkatkan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat dan kebutuhan akan pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan.
4. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan pendidikan di semua jenjang lembaga pendidikan.
Melalui proses pendidikan yang benar dan baik maka tujuan pendidikan nasional akan tercapai. Pendidikan sebagai wahana transformasi nilai dan ilmu pengetahuan merupakan proses yang dilakukan berdasarkan suatu keyakinan tertentu, yaitu suatu paradigma atau pemikiran yang bersifat filosofis, idealis, teoritis dan praktis. Oleh karena itu orang tua sebagai pendidik dan khususnya guru sebagai pendidik harus mempelajari, memahami, dan mengembangkan ilmu pendidikan agar mampu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan maksimal.
Urgensi mempelajari ilmu pendidikan bagi pendidik ataupun calon pendidik antara lain :
1. Memudahkan praktek pendidikan.
Dengan bekal ilmu pendidikan, kegiatan pendidikan dapat di-planning secara sistematis dan teratur sehingga praktek pendidikan dapat teratur dan dilaksanakan secara continue menuju ke tujuan yang telah ditetapkan.
2. Dapat menumbuhkembangkan rasa cinta pada diri pendidik terhadap tugasnya sebagai pendidik dan rasa cinta terhadap peserta didik.
Bagi Erich Fromm, persoalan cinta terkait dengan dua hal, yaitu bagaimana seseorang dapat sukses untuk dicintai dan bagaimana ia dapat mencintai orang yang dicintainya itu. Mendidik dengan cinta akan membuat peserta didik dapat merasakan makna cinta dalam hidup. Cinta membuat manusia kreatif dan produktif. Seorang pendidik seyogyanya mencintai pekerjaannya dan mencintai anak didiknya karena cinta merupakan wujud kesatuan interpersonal dan jawaban lengkap terhadap problematika humanisme. Menurut Muhammad Roqib, cinta mempunyai nilai spirit sebagai berikut :
a. Cinta adalah suatu kegiatan (activity), artinya cinta merupakan aktivitas yang berarti suatu tindakan yang membawa perubahan atas situasi tertentu, lewat jalan pengerahan energi.
b. Cinta selalu memuat elemen dasar perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pemahaman.
c. Cinta itu memberi, bukan menerima. Bagi oarng yang berkarakter produktif, memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Dalam memberi ada penghayatan akan kekuatan, kekayaan dan kekuasaan. Memberi menjadikan individu lebih bermanfaat dan akan menimbulkan rasa syukur sehingga individu tersebut mampu menjadi manusia yang baik (khoirunnas anfauhum lin nas).
d. Cinta adalah suatu kekuatan yang membangkitkan semangat serta memajukan orang lain dan menjadikan diri menjadi pribadi yang dicintai.
Mendidik dengan cinta membuat pendidik dan peserta didik selalu dalam keadaan senang dan dinamis dan proses pendidikan pun akan berjalan penuh makna (meaningfull). Eksistensi dinamis tersebut hendaknya diarahkan oleh pendidik untuk mendorong kreativitasnya dan kreativitas peserta didiknya. Pembangunan karakter (character building) dengan cinta akan mampu bergerak continue tanpa mengenal batas dan kelelahan, bagaikan air jernih yang terus mengalir menghidupkan tanaman dan menyejahterakan manusia.
3. Dapat menghindari kesukaran-kesukaran dan kesalahan-kesalahan dalam melaksanakan praktek pendidikan.
Ilmu pendidikan berisi merupakan suatu kajian yang memuat teori-teori pendidikan serta data-data dan penjelasannya. Teori-teori serta data-data dan penjelasanya tersebut dapat menghindari pendidik dari kesulitan dan kesalahan dalam melaksanakan praktek pendidikan. Beberapa contoh kesalahan yang mungkin dibuat dalam mendidik antara lain :
a. Pola pembelajaran yang terlalu memusatkan transformasi nilai dan pengetahuan pada guru (teacher centered) sehingga membuat kreativitas peserta didik terbatasi.
b. Menyamaratakan potensi tiap individu sehingga hasil dari konsep belajar tuntas (mastery learning) kurang maksimal.
c. Penyusunan materi yang cognitif oriented.
4. Untuk pengembangan ilmu pendidikan itu sendiri.
Ilmu pendidikan sebagai product dari ilmu pengetahuan mempunyai karakter yang selalu berkembang dan dinamis dan mempunyai korelasi dengan keilmuan yang lainnya. Agar ilmu pendidikan dapat merespon perkembangan zaman dan relevan dengan konteks kekinian maka ilmu pendidikan tersebut perlu dikembangkan. Pengembangan tersebut hanya mungkin dilakukan jika kita telah mempelajari ilmu pendidikan. Menurut Fazlur rahman, hal tersebut dikarenakan pengembangan pengetahuan tidak pernah berangkat dari ruang hampa (kosong), tetapi selalu didasarkan pada pengetahuan yang telah ada.
Selanjutnya menurut Fazlur Rahman, pengembangan pengetahuan tidak pernah mengenal akhir. Berakhirnya pengembangan pengetahuan sama dengan matinya ilmu pengetahuan. Sedangkan jika ilmu pengetahuan mati, maka akan berakibat mati atau mundurnya peradaban.
Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Jika ilmu pengetahuan maju, maka peradabanpun akan maju, dan sebaliknya. Contohnya ketika ilmu pengetahuan (terutama pemikiran filsafat) mengalami kemajuan di Yunani, peradaban di Yunani juga mengalami kemajuan. Ketika ilmu pengetahuan umat Islam mengalami kemajuan pada abad 8-12 M, peradaban mereka juga mengalami kemajuan. Sebaliknya, ketika ilmu pengetahuan umat Islam sejak abad ke 14 sampai sekarang mengalami kemunduran, peradaban umat Islam juga mengalami kemunduran. Sekarang ilmu pengetahuan mengalami kemajuan di Barat, peradaban di sana juga mengalami kemajuan.
Dengan dasar pemahaman bahwa pengetahuan itu selalu berkembang, Nabi Muhammad saw sendiri diajari oleh Allah melalui al-Qur’an untuk berdoa “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaahaa : 114). Nabi Muhammad saw yang menurut keyakinan umat Islam adalah orang yang paling tinggi ilmunya saja masih diperintahkan untuk memohon agar ditambahkan ilmu pengetahuan, apalagi umatnya. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam merupakan kitab yang shahih li kulli makan wa zaman, yang apabila kita selalu mengkajinya, pengetahuan bisa kita dapatkan dan kembangkan dari al-Qur’an.