Kamis, 21 Januari 2010

Islamisasi di Afrika sub-Sahara

Islamisasi di Afrika sub-Sahara
Oleh
Novan Ardy Wiyani

A. Latar Belakang
Afrika adalah tempat bermacam-macam bangsa dan kebudayaan yang banyak sekali. Afrika adalah negeri dengan pertentangan yang sangat mencolok dan keindahan yang liar. Di sana juga terdapat banyak masalah termasuk perang, kelaparan, kemiskinan, dan masalah penyakit. Di Afrika terdapat gurun Sahara yang merupakan gurun pasir terbesar di dunia. Gurun itu terbentang mulai dari samudra Atlantik di barat hingga laut merah di sebelah timur. Sahara meliputi seperempat dari seluruh benua itu.
Di Sahara Utara, sebagian besar penduduknya adalah keturunan Arab. Di Sahara Selatan, sebagian besar penduduknya adalah orang Afrika kulit hitam. Bagian selatan Sahara adalah Afrika yang berkhatulistiwa dimana terdapat hutan-hutan tropis yang subur dan padang rumput tropis yang disebut Sabana. Bagian selatan Sahara inilah yang disebut sebagai Afrika sub-Sahara, suatu istilah yang dipergunakan guna menggambarkan negara-negara sekitarnya.
Sejak zaman es, wilayah Afrika Utara dan Afrika sub-Sahara telah dipisahkan oleh iklim yang luar biasa keras di daerah Sahara yang jarang penduduknya membentuk sebuah rintangan alami yang dilalui hanya oleh sungai Nil. Sungai Nil merupakan jalan utama yang menghubungkan Afrika Utara dan Afrika sub-Sahara yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara utara dan selatan.
Kini penduduk di Afrika sub-Sahara mayoritas beragama Islam. Lalu bagaimanakah Islamisasi di Afrika sub-Sahara?

B. Pembahasan
1. Negara-negara di Afrika sub-Sahara
Afrika sub-Sahara adalah istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan negara-negara di benua Afrika yang tidak dianggap termasuk bagian Afrika Utara. Pada abad ke-19, di Eropa dan Dunia Barat wilayah ini kadang-kadang disebut sebagai Black Africa atau Afrika Hitam. Afrika secara keseluruhan umumnya dahulu dikenal sebagai "benua Hitam", sebuah istilah yang sebetulnya biasanya dimaksudkan untuk menyebut wilayah sub-Sahara. Pemakaian istilah ini sebagian disebabkan oleh warna kulit penduduk pribumi di sana, dan sebagian lagi terutama disebabkan oleh karena benua itu belum sepenuhnya dipetakan atau dijelajahi oleh orang-orang Barat. Istilah-istilah ini pada masa sekarang sudah menjadi istilah yang usang atau kuno, dan malah sering dianggap sebagai istilah yang melecehkan. Lebih lanjut, istilah ini seringkali menyesatkan, karena banyak orang Afrika yang berkulit hitam juga merupakan pribumi di Afrika Utara.
Sejak akhir zaman es, wilayah Afrika utara dan sub-Sahara telah dipisahkan oleh iklim yang luar biasa keras di daerah Sahara yang jarang penduduknya, membentuk sebuah rintangan alami yang dilalui hanya oleh Sungai Nil. Istilah masa kini untuk "sub-Sahara" digunakan untuk memperlihatkan gambaran umum bahwa Utara sebagai bagian atas dan Selatan sebagai bagian bawah. Afrika Tropis adalah sebuah alternatif nama modern, yang digunakan untuk ekologi tropis dari wilayah tersebut. Namun demikian, jika dipergunakan secara seksama, istilah ini akan mencakup juga Afrika Selatan, yang sebagian besar wilayahnya ada di luar wilayah Tropis garis katulistiwa bumi.
Pada umumnya, Afrika sub-Sahara adalah wilayah termiskin di dunia, yang diakibatkan oleh warisan penjajahan kolonial, neokolonialisme, konflik antar-etnis, dan perselisihan politik. Wilayah ini terdiri dari banyak negara-negara paling terbelakang di dunia. Afrika sub-Sahara, khususnya Afrika Timur, dinyatakan oleh ahli ilmu genetika sebagai tempat kelahiran ras manusia. Mitokondria Eve, jenis wanita nenek moyang seluruh umat manusia, kemungkinan masih ada pada masa kini di Ethiopia atau Tanzania. Afrika sub-Sahara merupakan situs dari banyak kekaisaran dan kerajaan, termasuk Nubia, Axum, Wagadugu (Ghana), Mali, Nok, Songhai, Kanem-Bornu, Benin, dan Zimbabwe Raya.

Peta Negara-negara di Afrika sub-Sahara
Sumber : http://www.idrc.ca/uploads/user-S/11184166631Map_-_Africa_LRG.jpg

Ada 42 negara yang berlokasi di daratan Afrika sub-Sahara. Ada 6 negara kepulauan termasuk Madagaskar, Seychelles, Komoro, Tanjung Verde, dan Sao Tome dan Principe. Mauritius pada umumnya tidak dianggap sebagai bagian dari kepulauan Afrika sub-Sahara dikarenakan suku bangsa yang membentuk negara itu didominasi oleh kaum India Timur, Suku Han (Tiongkok), dan Perancis. Menurut skema klasifikasi ini, negara-negara Afrika sub-Sahara adalah sebagai berikut:
Afrika Tengah
• Republik Demokratik Kongo
• Republik Kongo
• Republik Afrika Tengah
• Rwanda
• Burundi
Afrika Timur
• Kenya
• Tanzania
• Uganda
• Djibouti
• Eritrea
• Ethiopia
• Somalia (termasuk Somaliland)
• Sudan
Afrika Selatan
• Angola
• Botswana
• Lesotho
• Malawi
• Mozambique
• Namibia
• Afrika Selatan
• Swaziland
• Zambia
• Zimbabwe
Afrika Barat
• Benin
• Burkina Faso
• Kamerun
• Chad
• Côte d'Ivoire
• Republik Guinea Khatulistiwa
• Gabon
• Gambia
• Ghana
• Guinea
• Guinea-Bissau
• Liberia
• Mali
• Mauritania
• Niger
• Nigeria
• Senegal
• Sierra Leone
• Togo
Negara-negara kepulauan Afrika
• Tanjung Verde (Afrika Barat)
• Komoro (Afrika Selatan)
• Madagaskar (Afrika Selatan)
• Mauritius (Afrika Selatan)
• São Tomé dan Príncipe (Afrika Barat)
• Seychelles (Afrika Timur)
2. Islamisasi di Afrika Utara sebagai gerbang Islamisasi di Afrika sub-Sahara
a. Pra Islamisasi di Afrika Utara
Pada masa pra Islam di Afrika Utara telah bermukim bangsa Berber. Sebutan Berber dalam proses sejarah dipergunakan sebagai penamaan jenis bangsa yang bertebaran di daratan Eropa sejak abad ke 3 M. Bangsa ini dari tengah-tengah Asia bahkan ada yang menyebut dari daerah Caucaus, Asia Tengah. Di antara mereka ini juga terdapat suku Nordik di Jerman, salah satu ras yang kuat di antara suku-suku Jerman adalah suku Goth yang berkuasa saat Islam menakhlukkan semenanjung Iberia (711-715 M). Adapun suku Berber yang terkenal Vandal dari Iberia yang datang dari Bayern (Jerman) terkenal sebagai Vandal dan merubah nama Iberia menjadi Vandalusia. Mereka bersaing dan kalah politik dengan Goth dan terusir ke Afrika Utara di bawah pimpinan Geiserik (Vandal) yang berhasil mengalahkan Bizantium dan berhasil menguasai Carthage, Tunisia, Afrika Utara. Sejak itu penduduk Afrika Utara terkenal sebagai bangsa Berber.
b. Islamisasi di Afika Utara dari masa ke masa
1) Pada masa nabi Muhammad
Pada masa Nabi Muhammad pertama kali ada kontak Islam di Afrika yaitu setelah beberapa sahabatya hijrah ke Habsy dan di sana mereka mendapat perlakuan baik dari masyarakat maupun dari penguasa, yaitu raja Najjasyi atau Negus.
2) Pada masa Khalifah Umar ibn Khatab
Pada masa ini Panglima Amr ibn Ash menguasasi Mesir (639-644 M) setelah mengalahkan tentara Bizantium di mana sepuluh tahun sebelumnya Mesir berada di bawah kekuasaan Sasanta. Kota Fustat dijadikan sebagai ibu kota Islam pertama di bumi Afrika.
3) Pada masa Usman ibn Affan
Khalifah ke tiga ini mengirim Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah yang berhasil mengalahkan tentara Romawi di Laut Tengah dan mengalahkan tentara Bizantium lalu terus maju sampai ke Barqah dan Tripoli yang jatuh di tangannya. Kemudian pasukan Abdullah maju ke arah Carthage, ibu kota Romawi di Afrika Utara waktu itu. Hal ini menjadikan Raja Constantine III sangat marah dan dia menginginkan untuk merebut kembali wilayah kekuasaannya dari tangan kaum muslim. Pada saat itu situasi politik di Madinah kurang mendukung untuk melanjutkan perang yang akhirnya Khalifah Usman terbunuh dan keadaan kacau sampai Khalifah Ali juga terbunuh.
4) Dinasti Umayyah
Pada masa Muawiyah ibn Abi Sofyan, diutuslah seorang yang bernama Uqbah ibn Nafi menjadi gubernur di Afrika pada 666 M dengan ibu kota di Fustat. Ia memimpin pasukan menghadapi tentara musuh yang mengacau di Fezzaan (sekarang daerah Libya Selatan) dan Wardan. Uqbahlah yang pertama kali menembus padang pasir Sahara, menembus wilayah-wilayah Sudan termasuk Ghana dan membuka jalan sampai ke kota Awdaghost bahkan Uqbah dapat menembus daerah-daerah sampai ke Kawar dan beberapa wilayah Negro antara 666-671 M. Namun, ia dipecat dari jabatan gubernur dan diganti dengan Abul muhajir.
Uqbah kembali ke Damaskus dan melakukan protes terhadap Muawiyah namun Muawiyah tidak meresponnya, kemudian Muawiyah memberikan alasan bahwa diberhentikannya Uqbah adalah atas kemauan Maslamah sebagai penguasa seluruh daerah Afrika. Oleh karena itu Muawiyah tidak berhak campur tangan. Muawiyah tidak dapat berbuat sesuatu untuk Uqbah karena ia memiiki perjanjian rahasia dengan Maslamah dan Abul muhajir. Muawiyah telah berjanji kepada Maslamah dan Abul muhaji jika mereka berdua berhasil menggulungkan Muhammad ibn Abi Bakar sebagai pengusa Mesir semasa Khalifah Ali dan dapat menganeksasi kembali Mesir sebagai wilayah kekuasaan Umayyah maka mereka akan diberi hadiah yang istimewa. Maslamah sudah diangkat menjadi penguasa Mesir kemudian kini giliran Abul muhajir yang diberi kekuasaan sebagai penguasa Ifriqiyah tanpa mengindahkan sama sekali jasa-jasa Uqbah. Kemudian Abul Muhajir menghancurkan masjid Qayrawan dan kota yang telah dibangun oleh Uqbah kemudian membangunnya kembali agar sejarah mencatat namanya sebagai pendiri kota dan masjid Qayrawan.
Setelah wafatnya Muawiyah, putranya yaitu Yazid menjadi khalifah. Uqbah membuka kembali gugatannya dan berhasil merebut hati Yazid. Yazid memihak Uqbah dan Abul Muhajir pun menjadi bawahannya, kemudian Uqbah menghancurkan kota dan msjid Qayrawan lalu membangunnya kembali.
Pada periode kedua masa Yazid I, Uqbah memperluas wilayah kekuasaannya sampai Maroko. Berarti seluruh Ifriqiyah dan daerah al-Maghrib al-Aqsa jatuh di tangannya dengan amat cepat dalam waktu yang sangat singkat, maka Uqbah dijuluki sebagai Alexander Muslim. Setelah berhasil dalam penakhlukkan terakhir, ketika dalam perjalanannya ke Qayrawan Uqbah gugur dalam pertempuran dengan kepala suku Berber, Kusaila di Tahuza (juga disebut Ahuza). Selain sebagai penakhluk, Uqbah hidup abadi dengan bangunan kota dan masjid Qayrawan. Sampai sekarang masjid bersudut lima tersebut (satu-satunya di dunia) yang ia bangun pada 681 M masih ada dengan nama masjid Sidi Uqbah dan masih utuh bentuk keasliannya.
Setelah meguasai Tahuza, Kusaila menguasai Qayrawan yang menyebabkan sebagian tentara Arab lari ke Mesir. Walaupun Kusailah telah masuk Islam tapi di mata orang-orang Arab, bangsa Berber jauh lebih rendah. Hal ini menyebabkan mereka bersatu dengan musuh utama Arab yaitu Bizantium yang ada di Sisillia dan orang Berber pun berhasil menghalau kaum muslim dari seluruh al-Maghrib dan Ifriqiyah.
Setelah Abd al-Malik ibn Marwan memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Umayyah, ia mengutus Zuhair ibn Qais al-Balawi, yaitu wakil setia Uqbah ibn Nafi sebagai penguasa Afrika Utara sebagai panglima baru menggantikan Uqbah. Ia berhasil mengalahkan dan membunuh Kusailah dan memukul mundur pasukan gabungan Berber dan Bizantium dari Qayrawan. Panglima kembali ke Barqah untuk mempertahankan kota itu dari serangan Bizantium . Akhirnya Zuhair gugur dalam serangan Bizantium.
Khalifah Abd al-Malik sangat cemas atas gugurnya Zuhair di Barqah, maka lebih terdorong untuk cepat memulihkan kembali keunggulan dan kewibawaan Arab di sana maka ia pun mengirim Hasan ibn Nu’man sebagai pengganti Zuhair. Sementara di Timur orang Arab disibukkan dengan perang saudara yang menyebabkan pemerintahan pusat kurang memperhatikan Afrika, di samping itu orang Berber yang telah menguasai wilayah Ifriqiyah, muncul Kusailah II, Kahina (pendeta wanita, yakni ahli nuzum). Kisah-kisah pada periode ini kurang jelas baik secara fakta dan urut-urutan kejadiannya belum dipastikan. Setelah musuh-musuh politik di Timur dapat dikikis, khalifah segera menoleh kembali ke Afrika. Selanjutnya, Musa ibn Nusair diangkat menjadi Gubernur Jenderal menggantikan Hasan (709 M). Sebagai catatan, pada akhir kekuasaan dua penguasa Afrika Utara itu, anak turunan dari Kahina banyak konversi Islam yang dalam sejarahnya disebut Mawali.
5) Pada masa dinasti-dinasti kecil di Afrika Utara
a) Dinasti Idrisiyah di Maroko
Dinasti Idrisiyah di Maroko didirikan oleh cucunya Hassan ibn Ali, yaitu Idris ibn Abdullah yang kalah dalam pemberontakannya terhadap Abbasiyah pada 786 M. Ia lari ke Maroko dan mendirikan dinasti Idrisiyah dengan ibu kota Fezz. Dinasti ini merupakan dinasti Syi’ah pertama dalam sejarah Islam. Karena dinasti ini terletak antara kekuatan Islam besar yaitu Umayyah di Andalusia dan Fatimiah di Afrika Utara, akhirnya panglima dari Hakam II di Andalusia, yaitu Ghalib Billah melakukan aneksasi wilayah Idrisiyah. Setelah itu, maka berakhirlah Dinasti Idrisiyah.

b) Dinasti Aghlabiyah
Khalifah Harun al-Rasyid mengutus Ibrahim ibn al-Aghlab sebagai penguasa Ifriqiyah. Mereka berkuassa secara independen dengan penguasa yang bergelar Amir dan mempengaruhi kawasan Laut Tengah. Dinasti Aghlabiyah (800-909 M) berpusat di Sijimasa, berdiri ketika Khalifah Harun al-Rasyid mengangkat Ibrahim ibn al-Aghlab sebagai penguasa Ifriqiyah (Tunisia) pada 800 M. Kedua dinasti ini sama-sama mengekspansi ke al-Maghribi. Periode ini membawa Afrika Utara dan kawasan pesisir Laut Tengah dalam banyak kemajuan. Dinasti ini dilenyapkan oleh Dinasti Fatimiyah ketika menguasai ibu kota Sijilmasa dengan mengalahkan penguasa terakhir Ziadatul al-Aghlabi III pada 909 M.
c) Dinasti Ibn Toulun
Di Syiria dan Mesir berdiri Dinasti Toulunia (828 M), pendiri dinasti ini adalah Ahmad ibn Toulun yang semula ditugaskan oleh penguasa Abbasiyah sebagai penguasa Mesir. Pada periode ini kegiata intelektual dan arsitektur, berkembang dan maju. Banyak rumah sakit, masjid, dan menara didirikan di antaranya Masjid ibn Toulun di Mesir yang sangat popular gaya arsitekturnya dalam sejarah. Putera Ibn Toulun, Syaiban (904-905 M) mengembalikan Mesir dalam kekuasaan Abbasiyah.
d) Dinasti Ikhshid
Muhammad ibn Tughuz mendirikan dinasti Turki yang ia mendapatkan restu dan nama dinasti ini dari Khalifah al-Razy, menggunakan nama Ikhsid (gelar kehormatan yang biasa digunakan raja-raja Sasania sebelum Islam), tidak lama kemudian ia menguasai Syam, Palestina, dan kedua kota suci Islam, Mekah-Madinah serta masjidnya. Penguasa terakhir dari dinasti ini adalah Abul Fawaris. Ia dikalahkan oleh Jawhar, panglima perang dari Dinasti Fatimiah.
e) Dinasti Fatimiah
Dinasti Fatimiah berdiri pada 909 M di Afrika Utara setelah mengalahkan Dinasti Aghlabiyah di Sijilmasa. Dalam sejarahnya, kejayaan Dinasti Fatimiah datang setelah pusat kekuasaannya dipindahkan dari Tunisia ke Mesir. Kekuasaan Syi’ah tersebut berakhir pada 1171 M. Kekhalifahan Fatimiah lahir sebagai manifestasi dari idealisme orang-orang Syi’ah yang beranggapan bahwa yang berhak memangku jabatan imamah adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah. Kekuasaan ini lahir antara dua kekuatan politik kekhalifahan, Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah II di Cordova.
Pada saat iu di Sudan, Negara-negara di sub-Sahara yang berkulit hitam ditemukan tambang emas, kemudian dari sana emas mengalir ke Cordova dan Kairo. Hasil penambangan emas di Sudan tersebut banyak dijadikan dana untuk pembangunan masjid dan dijadikan pula tujuan-tujuan urbanisasi seperti pembuatan istana, masjid dan pasar-pasar. Pada masa al-Aziz (976-996 M), masjid al-Azhar mengalami perubahan mendasar menjadi universitas yang sampai sekarang masih berdiri sebagai salah satu perguruan tinggi Islam yang paling terkenal di dunia.
3. Islamisasi di Afrika sub-Sahara
Sebagaimana telah diuraikan pada bagian Islamisasi di Afrika Utara, bahwa Islam telah mencapai wilayah sub-Sahara pada masa kepemimpinan Uqbah, saat Bani Umayyah berkuasa di Damaskus. Dialah yang berperan cukup besar dalam menembus padang pasir Sahara, termasuk wilayah-wilayah Sudan. Ia juga berhasil membuka jalan ke Awdagost. Sebagai wali Ifriqiyah pertama, Uqbah telah menembus daerah-daerah itu bahkan sampai ke Kawar dan beberapa wilayah Negro (666-671 M) dan pada periode kedua (semasa Yazid ibn Muawiyah) ia memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Maroko. Masuknya Islam secara formal dan besar-bearan di wilayah bilad al-Sudan terjadi pada masa Dinasti al-Murabithun dan al-Muwahidun.
a. Islamisasi pada masa Dinasti Marabithun (1091-1147 M)
Sebelum Islam menakhlukkan Afrika Utara, ± 500 tahun wilayah Afrika Utara dijajah Bizantium. Mereka tidak dapat menembus sub-Sahara saat itu karena kondisi alam yang sangat tidak bersahabat. Di penghujung periode Bizantium di Afrika Utara diintrodusir pengguanaan unta sebagai alat transportasi yang mendorong aktivitas Berber dalam bidang lalu lintas kafilah. Akhirnya berkembanglah kota-kota dagang di Sahil yang memberi peluang untuk kontak dengan peradaban Laut Tengah (peradaban Islam di Afrika Utara) di Afrika Barat, maka Islam mulai masuk dan tersebar di Sudan tidak terkecuali di Afrika Barat yang dilakukan oleh para pedagang Berber muslim.
Orang Murabithun secara khusus mengorganisasi orang bersenjata yang terdiri dari orang Berber dari suku Sanhaja dan Lamtuna yang bermayoritas Syi’ah. Akhirnya mereka menjadikan Awdaghost sebagai kota muslim yang kharismatis.
Tarsina (pemimpin Lamtuna) setelah naik haji mengadakan perang Jihad terhadap Negro dan wafat pada 1020 M. Menantunya, yaitu Yahya ibn Ibrahim menggantikan posisi Tarsina. Yahya kemudian naik haji bersama para kepala suku termasuk kepala suku Sanhaja. Dalam perjalanan pulang, Yahya singgah di Qayrawan, kemudian mengajak seorang ulama bernama Abu Imram Musa ibn Isa (W.1038 M) untuk mengajar di negerinya. Meskipun ia tidak dapat memenuhi ajakannya, namun Abu Imran menyarankan agar Yahya menjumpai pemimpin pesantren Dar al-Murabithun di Nafis yang dipimpin Wajjaj ibn Zalwi yang kemudian menugaskan Abdullah ibn Yasin untuk berangkat. Abdullah dapat reaksi keras atas pembaruannya dari kalangan tradisional masyarakat Sanhaja. Akhirnya setelah yahya wafat, Abdullah tidak begitu berhasil menyebarkan agama Islam di sana, maka ia dengan para pengikut setia Yahya pindah ke wilayah Sudan. Kemudian mereka mendirikan Ribath (pondok sufi) di pantai Atlantik (Mauritania). Kemudian lahirlah sebagai kelompok militant yang dinamakahn al-Murabithun (1056-1146 M). Kemudian pada 1040 Abdullah mengangkat Yahya ibn Umar sebagai juru dakwah bersama 1000 pengikut datang ke Lamtuna. Mereka adalah anak cabang dari suku Sanhaja di Maroko Selatan lalu mengarungi Gurun Sahara sampai daerah Sungai Niger sambil mengislamkan orang yang berkulit hitam. Pada saat itu penduduk wilayah tersebut (Afrika bagian Barat) berpaham animisme dan banyak menyembah berhala. Gerakan orang-orang Murabithun berhasil mengislamkan daerah tersebut.
Abdullah ibn Yasin mengajarkan ajaran Islam atas permintaan dari kepala suku Lamtuna. Ia mengumpulkan suku Lamtuna dan bertempat tinggal bersama di daerah Senegal. Mereka melatih para pengikutnya di Ribath tersebut. Setelah mendapatkan pengikut yang relatif banyak, mereka mulai menyerang kerajaan Ghana yang tidak mau tunduk dan hanya menindas rakyatnya. Gerakan ini mengindikasikan adanya pemikiran politik di kalangan mereka untuk membela ajaran Islam.
Setelah orang Murabithun menakhlukkan daerah selatan termasuk merebut Awdaghost, pemimpin mereka Yahya ibn Umar wafat dan digantikan Abdullah. Ia kembali ke Maroko pada 1056-1057 M. Sewafatnya Abdullah digantikan Abu Bakat ibn Umar sebagai panglima di sub-Sahara yang diangkat oleh Yusuf ibn Tasfin.
b. Islamisasi pada masa Dinasti al-Muwahidun (1147-1228)
Dinasti al-Muwahhidun juga mengislamkan daerah-daerah sub-Sahara. Orang Muwahidun menuduh al-Murabithun sebagai orang kafir sehingga mereka memerangi al-Murabithun sebagai kewajiban agama. Abdul Mu’min (penguasa Muwahhidun mengahncurkan suku Sanhaja. Sejak saat itu wilayah al-Muwahhidun meliputi Afrika Utara sampai Samudra Atlantik. Mereka, yaitu al-Murabithun dan al-Muwahhidun juga cukup lama berkuasa di Andalusia saat al-Muluk al-awaf sudah lemah. Karena wilayah kekuasaanya melebihi dari wilayah kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pada saat itu para khalifah di Baghdad sangat lemah, maka Abdul Mu’min resmi memakai gelar Khalifatullah. Setelah 1212, Dinasti al-Muwahhidun terbelah menjadi beberapa dinasti yang mandiri dan menyatakan kemerdekaannya.
4. Pengaruh Islam dalam Kehidupan Masyarakat di Afrika sub-Sahara
Selain Islamisasi dilakukan secara formal oleh al-Murabithun dan al-Muwahhidun, Islamisasi juga dilakukan dengan cara kultural. Islamisasi tersebut dilakukan melalui media perdagagan. Mereka membangun pemukiman pedagang muslim di wilayah Sudan. Sambil melakukan proses perekonomian mereka juga melakukan dakwah Islamiah. Di sepanjang bagian barat Afrika sub-Sahara Islam dapat diterima dengan mudah oleh suku Soninke dan nenek moyangnya suku Tokolor. Dari sini pentiaran Islam ke timur sampai ke lembah Senegal. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa proses Islamisasi di Sub-Sahara persis seperti di Nusantara, yaitu melalui jalur perdagangan.
Sebelum kedatangan warga Arab Berber, Sudan merupakan sebuah wilayah pertanian dan masyarakat bernegara yang memusat. Sudan menjalin hubungan dagang dengan beberapa wilayah di Afrika dan di laut tengah, biasanya melalui perantaraan warga Berber. Sudan juga mengekspor emas bahkan produksi emas Sudan telah menopang perekonomian Dinasti Aghlabiah, Fatimiah, dan Umayyah di Spanyol.
Sejak bangsa Arab menakhlukkan Afrika Utara, bangsa Arab meningkatkan intensitas jalur perdagangan ke Afrika sub-Sahara dan menguatkan hubungan antara bangsa Arab, Berber dan suku-suku di Afrika sub-Sahara. Pada akhir abad ke 10 dan abad ke 11 sebagian besar kota perdagangan di Sudan telah memiliki sebuah perkampungan muslim dan warga muslim menjalankan peran penting sebagai penasehat dan beberapa jabatan lainnya di beberapa kerajaan lokal. Untuk mendapatkan dukungan administratif, legitimasi, dan hubungan dagang para penguasa Kawkaw, Takrur, Ghana, dan Bornu memeluk Islam pada akhir abad ke 10 dan ke 11.
Pengaruh Islam akhirnya menjadikan hampir seluruh penduduk di Afrika sub-Sahara menjadi penduduk yang mayoritas muslim. Muncul banyak negara-negara di Senegal, imperium Srinke di Ghana, dan negara-negara di bawah wilayah imperium Mali yang sangat berperan aktif dalam Islamisasi di sana. Sejak abad ke 18-19 M negara-negara muslim di Afrika sub-Sahara semuanya menjadi jajahan negara-negara Eropa. Walaupun negara-negara tersebut sudah merdeka namun wilayahnya yang memproduksi seperempat kakayaan dunia tersebut secara politik dan ekonomi masih terbelenggu oleh Barat. Sementara dapat dikatakan di daerah Afrika sub-Sahara meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, namun pengaruh adat masih tampak dominan dibandingkan dengan agama kecuali ada beberapa daerah atau kota seperti Kano di Nigeria Utara dan di Niger.
5. Ibrah dari Sejarah Islamisasi di Afrika sub-Sahara.
Dari pemaparan di atas kita bisa mengetahui jika islamisasi di Afrika sub-Sahara dilakukan melalui beberapa jalan, antara lain :
a. Melalui ekspansi militer.
Islamisasi melalui ekspansi militer di Afrika sub-Sahara bertujuan untuk membebaskan penduduk pada masa itu dari belenggu kesewenang-wenangan penguasa setempat seperti yang dilakukan oleh Uqbah, Dinasti al-Murabithun, dan al-Muwahidun. Satu hal yang perlu kita catat dalam Islamisasi dengan ekspansi militer ini adalah setelah daerah tersebut dikuasasi kemudian terjadi perebutan kekuasaan antar muslim, seperti perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Abul Muhajir terhadap Uqbah serta perebutan kekuasaan Dinasti al-Muwahhidun terhadap kekuasaan Dinasti al-Murabithun.
Perebutan kekuasaan tersebut telah mengurangi esensi dari tujuan ekspansi militer yang dilakukan oleh kaum muslim, yaitu untuk membebaskan penduduk dari kesewenang-wenangan penguasa lokal. Hal tersebut akhirnya telah menciptakan mindset bahwa yang terpenting dari Islamisasi dengan model ini adalah bagaimana mendapatkan pengaruh dan kekuasaan tanpa memperhatikan dampak negatifnya terhadap perkembangan Islamisasi itu sendiri. Ada dua indikator yang menguatkan statement tersebut, antara lain :
1) Abul Muhajir menghancurkan masjid Qayrawan dan semua bangunan-bangunan yang dibangun oleh Uqbah semata-mata agar sejarah mencatat bahwa Abul Muhajir lah yang membangun kota Qayrawan bukan Uqbah. Abul Muhajir telah melaksanakan kebijakan yang bertentangan dengan prinsip Islam, bahkan bertentangan dengan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW pada saat menakhlukkan Mekah, Rasulullah SAW tidak menghancurkan Ka’bah yang pada saat itu dijadikan sebagai tempat untuk mengukuhkan paganisme oleh kaum kafir Quraisy. Secara individu, bagi Abul Muhajir sendiri kebijakan tersebut menguntungkan namun bagi umat Islam pada umumnya penghancuran masjid Qayrawan beserta bangunan-bangunan yang dibangun Uqbah bisa menghambat dakwah Islam. Hal ini dikarenakan umat Islam membutuhkan sarana dalam berdakwah dan salah satu sarana tersebut adalah masjid.
2) Mudahnya orang al-Muwahhidun menyebut orang al-Murabithun sebagai orang kafir tanpa alasan yang jelas dan harus diperangi. Hal tersebut semakin menguatkan jika pada akhirnya Islamisasi dengan cara ekspansi militer untuk membebaskan penduduk setempat dari kesewenang-wenangan penguasa lokal pada akhirnya ternodai oleh berbagai kepentingan untuk memperebutkan kekuasaan. Selain itu tuduhan tersebut tentunya bisa membingungkan penduduk setempat yang akan dan baru memeluk agama Islam dan hal ini bisa menghambat Islamisasi di Afrika sub-Sahara.
Nampaknya kekuasaanlah yang menjadi tujuan akhir bagi dinasti-dinasti yang muncul pada masa itu bukan kemajuan Islam itu sendiri sehingga yang mereka dapatkan adalah kehancuran. Dari hal itu bisa kita ambil ibrah jika dalam dakwah Islam tujuan utamanya bukanlah kekuasaan namun kemajuan Islam itu sendiri, baik kemajuan secara kualitas maupun kemajuan secara kuantitas.
b. Melalui jalur dakwah.
Islamisasi melalui jalur dakwah ini telah dilakukan oleh Yahya ibn Ibrahim yang meminta kepada Abdullah ibn Yasin untuk berdakwah di kalangan Suku Sanhaja dan lamtuna. Namun kemudian dakwah yang dilakukan oleh Abdullah ibn Yasin ditentang oleh kalangan tradisional karena dakwahnya yang radikal.
Sepeninggal Yahya, Abdullah ibn Yasin bersama pengikut setia Yahya pindah ke daerah pantai Atlantik (Mauritania) kemudian mendirikan Ribath (pondok sufi) yang malahirkan pengikut yang militan yang kemudian dikenal dengan gerakan al-Murabithun yang mampu berdakwah dan mengislamkan penduduk-penduduk negro.
Ada dua hal yang bisa kita simpulkan, pertama dakwah yang dilakukan oleh Abdullah ibn Yasin dilakukan secara radikal sehingga mendapat pertentangan dari kaum tradisionalis; kedua, akhirnya dakwah yang dilakukan oleh orang-orang al-Murabithun bernuansa politis sehingga mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Dari dua hal di atas kita bisa mengambil ibrah bahwa kegiatan dakwah akan berhasil dengan maksimal jika kita berdakwah dengan sikap yang toleran terhadap budaya setempat tanpa mengurangi esensi dari ajaran-ajaran Islam yang sedang kita sebarkan, kita menyampaikan ajaran Islam dan juga membimbing masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam secara bertahap. Kemudian dakwah Islam juga akan lebih maksimal lagi jika kita ketika berdakwah tidak terkontaminasi oleh politik.
c. Melalui jalur perdagangan.
Islamisasi di Afrika sub-Sahara menjadi model Islamisasi yang efektif dibandingkan dengan model yang telah penulis bahas di atas. Model Islamisasi ini minim akan terjadinya konflik pertumpahan darah. Namun kemudian model Islamisasi melalui jalur berdagangan telah menciptakan kesan elitis dimana pedagang muslim yang melakukan Islamisasi melalui perdagangan membuat pemukiman sendiri dan tidak bercampur dengan penduduk setempat.
Elitisme tersebut tentunya bisa menciptakan jarak antara mereka dengan penduduk setempat padahal di lain sisi penduduk setempat membutuhkan uswah secara langsung dari mereka. Sisi inilah yang nampaknya telah mereka abaikan, yaitu transmisi nilai-nilai keislaman dengan memberikan uswah kepada penduduk setempat. Islamisasi melalui jalur perdagangan ini akan lebih efektif lagi jika mereka tidak elitis dengan memisahkan tempat tinggal mereka dengan penduduk setempat serta lebih intens untuk memberikan uswah kepada penduduk setempat.

C. Kesimpulan
Islamisasi di Afrika sub-Sahara diawali dengan Islamisasi di Afrika Utara yang dilakukan oleh kaum muslim terhadap penduduk setempat. Setelah itu barulah Islamisasi di di Afrika sub-Sahara dilakukan. Islamisasi di Afrika sub-Sahara menggunakan 3 jalur, yaitu melalui ekspansi militer, melalui jalur dakwah, dan melalui jalur perdagangan. Dengan demikian bisa dikatakan jika Islamisasi di Afrika sub-Sahara mirip dengan Islamisasi di Indonesia, yaitu melalui jalur dakwah dan jalur perdagangan.
Uqbah ibn Nafi merupakan tokoh yang paling berjasa dalam sejarah Islamisasi di Afrika sub-Sahara. Kini negara-negara di Afrika sub-Sahara penduduknya mayoritas beragama Islam, namun keberagamaan mereka masih dipengaruhi oleh budaya setempat seperti praktek-praktek paganisme, animisme, dan dinamisme.







Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika_Sub-Sahara
Karim, M. Abdul. 2009. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.

Lapidius, Ira. M. 1999. Sejarah Sosial Umat Islam : Bagian ke Satu dan Dua, Terjemahan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Pasaribu, Saut. 2008. Sejarah Kebudayaan Dunia. Magelang : Pustaka Horizona.

Robinson, David. Muslim Societies in African History. United States of America.

1 komentar: